Teknologi Semakin Cerdas, Apakah Komunikasi Kesehatan Ikut Berkualitas?

21 Jul 2026 | 0 comments

“Di era ketika satu unggahan media sosial mampu menjangkau jutaan orang hanya dalam hitungan menit, komunikasi kesehatan tidak lagi sekadar menyampaikan informasi. Ia menjadi pertarungan antara fakta, kepercayaan, dan kecepatan.”

Perubahan selalu menjadi bagian dari perjalanan dunia kesehatan. Dahulu, masyarakat memperoleh informasi kesehatan melalui tenaga medis, penyuluhan di puskesmas, atau media massa seperti televisi dan surat kabar. Kini, cukup dengan mengetik beberapa kata pada mesin pencari atau membuka media sosial, ribuan informasi kesehatan langsung tersedia di layar telepon genggam. Ironisnya, tidak semua informasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan.

Fenomena inilah yang menjadi salah satu wajah Society 5.0, sebuah era ketika teknologi digital berkembang semakin cerdas untuk membantu manusia mengambil keputusan dan meningkatkan kualitas hidup. Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), Big Data, cloud computing, hingga perangkat wearable telah mengubah cara masyarakat memperoleh layanan kesehatan. Konsultasi dengan dokter dapat dilakukan secara daring, rekam medis tersimpan secara digital, bahkan jam tangan pintar mampu memantau detak jantung, kualitas tidur, dan tingkat aktivitas fisik seseorang.

Di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul pertanyaan yang patut direnungkan: apakah kemajuan teknologi juga diikuti oleh kualitas komunikasi kesehatan yang semakin baik?

Jawabannya belum tentu.

Teknologi memang mempercepat penyebaran informasi, tetapi belum tentu meningkatkan pemahaman masyarakat. Justru di era digital saat ini, masyarakat menghadapi banjir informasi (information overload) yang sering kali membuat mereka kesulitan membedakan mana informasi ilmiah dan mana sekadar opini pribadi. Tidak sedikit konten kesehatan yang viral karena dikemas secara menarik, padahal tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan komunikasi kesehatan pada era Society 5.0 bukan lagi terletak pada keterbatasan akses informasi, melainkan pada kemampuan masyarakat memilih informasi yang benar.

Media sosial menjadi contoh nyata. Platform seperti TikTok, Instagram, Facebook, maupun YouTube telah menjadi ruang belajar baru bagi masyarakat. Banyak dokter, perawat, bidan, ahli gizi, dan tenaga kesehatan lainnya memanfaatkan platform tersebut untuk memberikan edukasi kesehatan secara kreatif. Kehadiran mereka menjadi angin segar karena mampu menjangkau masyarakat luas dengan bahasa yang sederhana.

Namun, ruang yang sama juga dipenuhi oleh kreator konten yang tidak memiliki kompetensi di bidang kesehatan. Tidak sedikit informasi yang disampaikan berdasarkan pengalaman pribadi, asumsi, atau bahkan strategi pemasaran produk tertentu. Ketika informasi seperti ini dikonsumsi tanpa sikap kritis, masyarakat berpotensi mengambil keputusan kesehatan yang keliru.

Fenomena ini pernah terlihat jelas ketika pandemi COVID-19 melanda dunia. Bersamaan dengan penyebaran virus, muncul pula gelombang informasi yang luar biasa besar. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan memperkenalkan istilah infodemic, yaitu kondisi ketika terlalu banyak informasi—baik yang benar maupun yang salah—beredar sehingga masyarakat kesulitan menemukan sumber yang dapat dipercaya. Situasi serupa masih terus berlangsung hingga kini, meskipun dalam isu yang berbeda, mulai dari pola makan, penggunaan suplemen, obat herbal, hingga kesehatan mental.

Di sisi lain, perkembangan Artificial Intelligence menghadirkan babak baru dalam komunikasi kesehatan. Saat ini masyarakat dapat bertanya kepada chatbot berbasis AI mengenai gejala penyakit, pola hidup sehat, atau langkah pencegahan penyakit tertentu. Rumah sakit mulai memanfaatkan AI untuk membantu membaca hasil radiologi, memprediksi risiko penyakit kronis, hingga mendukung pengambilan keputusan klinis.

Teknologi tersebut tentu memberikan manfaat besar karena mampu meningkatkan efisiensi pelayanan. Akan tetapi, AI tetap tidak dapat menggantikan sepenuhnya peran komunikasi manusia. Empati, kepedulian, bahasa tubuh, dan sentuhan psikologis merupakan aspek yang tidak dapat dihitung oleh algoritma. Seorang pasien yang baru menerima diagnosis penyakit serius tidak hanya membutuhkan informasi medis, tetapi juga membutuhkan dukungan emosional yang lahir dari komunikasi antarmanusia.

Inilah alasan mengapa teknologi seharusnya menjadi pelengkap, bukan pengganti komunikasi interpersonal dalam pelayanan kesehatan.

Tantangan berikutnya adalah rendahnya literasi kesehatan digital. Memiliki akses internet bukan berarti seseorang mampu memahami informasi kesehatan dengan benar. Literasi kesehatan digital mencakup kemampuan mencari, mengevaluasi, memahami, dan menggunakan informasi kesehatan secara tepat dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, kemampuan tersebut belum dimiliki secara merata oleh masyarakat Indonesia.

Mahasiswa sebagai generasi digital pun tidak otomatis memiliki literasi kesehatan yang baik. Mereka terbiasa menggunakan teknologi, tetapi belum tentu terbiasa melakukan verifikasi terhadap sumber informasi. Padahal, calon tenaga kesehatan dituntut menjadi komunikator yang mampu menyampaikan informasi berbasis bukti (evidence-based information), bukan sekadar mengikuti tren yang sedang viral.

Perguruan tinggi memiliki peran yang sangat strategis dalam menjawab tantangan tersebut. Kampus tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga membentuk karakter profesional yang mampu berkomunikasi secara etis, empatik, dan bertanggung jawab. Kemampuan berbicara di depan pasien, menulis edukasi kesehatan, membuat konten digital yang kredibel, hingga melawan hoaks kesehatan merupakan kompetensi yang semakin penting di era Society 5.0.

Bagi institusi pendidikan kesehatan, transformasi digital juga membuka peluang besar. Proses pembelajaran kini dapat memanfaatkan simulasi virtual, pembelajaran berbasis AI, laboratorium digital, hingga kolaborasi internasional melalui platform daring. Mahasiswa tidak lagi dibatasi ruang kelas, tetapi dapat belajar dari berbagai sumber pengetahuan di seluruh dunia. Namun, teknologi tersebut tetap harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, etika profesi, dan komunikasi yang humanis.

Pada akhirnya, keberhasilan komunikasi kesehatan tidak diukur dari seberapa banyak informasi yang disampaikan, melainkan dari sejauh mana informasi tersebut mampu dipahami, dipercaya, dan mendorong perubahan perilaku masyarakat. Pesan kesehatan yang baik bukan hanya akurat secara ilmiah, tetapi juga relevan dengan kondisi sosial, budaya, dan kebutuhan masyarakat.

Sebagai bagian dari komunitas akademik, kita memiliki tanggung jawab untuk menciptakan ekosistem informasi yang sehat. Dosen dapat menjadi sumber edukasi yang kredibel melalui penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa dapat menjadi agen perubahan dengan menyebarkan informasi kesehatan yang benar melalui media digital. Institusi pendidikan dapat memperkuat budaya literasi digital melalui kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Era Society 5.0 menawarkan peluang yang luar biasa bagi dunia kesehatan. Teknologi telah menghadirkan berbagai inovasi yang sebelumnya sulit dibayangkan. Namun, secanggih apa pun sistem yang dibangun, keberhasilan pelayanan kesehatan tetap bergantung pada kualitas komunikasi antarmanusia. Kepercayaan pasien tidak lahir dari kecanggihan aplikasi, melainkan dari kejujuran informasi, empati, dan profesionalisme tenaga kesehatan.

Masa depan komunikasi kesehatan bukan sekadar tentang siapa yang memiliki teknologi paling mutakhir, tetapi siapa yang mampu menggunakan teknologi tersebut untuk membangun hubungan yang lebih manusiawi. Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar data; mereka membutuhkan penjelasan yang jujur, edukasi yang mudah dipahami, dan komunikasi yang menghadirkan rasa aman.

Mungkin itulah makna sesungguhnya dari Society 5.0: bukan menjadikan manusia mengikuti teknologi, melainkan memastikan teknologi selalu bekerja untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan. Ketika kecerdasan buatan bertemu dengan kecerdasan emosional, ketika inovasi berjalan seiring dengan empati, dan ketika komunikasi menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan kepercayaan masyarakat, saat itulah transformasi kesehatan benar-benar mencapai tujuannya.

Penulis : Afner Gus Chandra, S.Kom.I, M.Sos.
Dosen Fakultas Teknologi Kesehatan, IKTA