Bagi kebanyakan orang, malam hari adalah waktu terbaik untuk meluruskan punggung dan mengistirahatkan pikiran. Begitu juga yang dilakukan seorang pria yang malam itu sedang rebahan di sofa rumahnya sambil menonton televisi. Tidak ada keluhan fisik sama sekali; ia merasa tubuhnya sehat-sehat saja. Namun, ketenangan itu mendadak buyar saat pergelangan tangannya bergetar kencang. Sebuah peringatan darurat berwarna merah menyala di layar smartwatch-nya. Jam itu mendeteksi bahwa detak jantungnya berada di ritme yang kacau selama sepuluh menit terakhir—sebuah indikasi awal Atrial Fibrillation, gangguan irama jantung yang bisa memicu kematian mendadak.
Meskipun dadanya tidak terasa sakit, pria ini memilih untuk percaya pada peringatan di tangannya dan langsung bergegas ke instalasi gawat darurat. Keputusan itu terbukti menyelamatkan nyawanya. Beberapa jam kemudian, dokter mengonfirmasi bahwa ia nyaris saja mengalami serangan jantung koroner senyap (silent heart attack).
Cerita nyata seperti ini bukan lagi konsumsi film fiksi ilmiah. Kehadiran gawai yang menempel di tubuh kita (wearable devices)—mulai dari jam tangan hingga cincin pintar—telah mengubah fungsi arloji secara drastis. Ia bukan lagi sekadar penunjuk waktu atau pelengkap gaya berbusana, melainkan sudah menjelma menjadi posko medis berjalan. Lewat ekosistem Internet of Medical Things (IoMT), perangkat sekecil ini mampu menembakkan sensor cahaya ke pembuluh darah kita nonstop selama 24 jam untuk merekam data saturasi oksigen, pola tidur, hingga denyut nadi jutaan manusia secara langsung. Rumah sakit kini benar-benar telah berpindah ke pergelangan tangan kita.
Namun, di balik kepraktisan pemantauan dini ini, ada harga mahal yang harus dibayar oleh psikologis dan privasi kita. Ketika kondisi tubuh terus-menerus diintai dan diubah menjadi baris-baris angka digital, kita perlahan-lahan sedang digiring masuk ke dalam pusaran kecemasan baru yang tidak kalah berbahaya bagi manusia modern.
Dari Menghitung Langkah ke Deteksi Kematian Senyap
Kalau kita mundur beberapa tahun ke belakang, kita membeli smartwatch mungkin hanya untuk sekedar pamer atau menghitung berapa langkah kaki dari tempat parkir ke meja kerja. Hari ini, fungsinya sudah melompat jauh ke ranah klinis. Berkat teknologi Photoplethysmography (PPG)—sensor lampu hijau di balik jam yang membaca perubahan volume aliran darah—gawai ini sekarang bisa merekam elektrokardiogram (EKG) mandiri dengan tingkat akurasi yang diakui oleh dunia medis.
Lompatan teknologi ini otomatis mengubah cara kita memandang kesehatan. Selama berabad-abad, sistem medis kita selalu bersifat reaktif; kita baru sibuk mencari dokter setelah tubuh ambruk atau merasakan sakit yang tak tertahankan. Padahal, penyakit mematikan seperti serangan jantung seringkali datang tanpa memberikan aba-aba terlebih dahulu.
Dengan adanya jaringan IoMT, pendekatan medis bergeser menjadi lebih proaktif. Jam tangan kita tahu kapan detak jantung melonjak tidak wajar saat kita sedang terlelap, atau kapan kadar oksigen dalam darah mendadak drop secara ekstrem. Data harian yang dikumpulkan dari pergelangan tangan jutaan orang ini membuka peluang bagi dunia kedokteran untuk melakukan tindakan penyelamatan, bahkan sebelum si pasien menyadari ada yang salah dengan tubuhnya sendiri.
Jebakan Cyberchondria: Ketika Angka Memicu Kepanikan
Sisi ironisnya, mental manusia modern ternyata belum sepenuhnya siap menghadapi banjir data tentang organ dalam mereka sendiri. Bayangkan saja kalau setiap jam, sebuah mesin di tanganmu terus-menerus melaporkan bahwa tingkat stresmu tinggi, kualitas tidurmu berantakan, atau detak jantungmu terlalu lambat saat sedang duduk santai. Apa yang akan terjadi? Alih-alih merasa bugar, kita malah akan mendadak merasa sakit hanya karena didikte oleh sepotong jam tangan.
Kondisi psikologis inilah yang melahirkan tren Cyberchondria—sebuah gangguan kecemasan di mana seseorang menjadi terobsesi secara berlebihan untuk mencari tahu gejala penyakit di internet, akibat salah mengartikan data kesehatan yang mereka lihat di layar gawai[2].
Para dokter di berbagai rumah sakit sekarang mulai sering mengeluhkan fenomena baru ini. Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) makin sering kedatangan anak-anak muda yang sebenarnya sehat walafiat, tapi datang dalam kondisi panik luar biasa. Pemicunya sepele: jam tangan pintar mereka mendadak memunculkan peringatan gangguan ritme jantung. Begitu diperiksa menggunakan peralatan standar rumah sakit, kondisi jantung mereka ternyata normal-normal saja. Usut punya usut, lonjakan nadi itu ternyata hanya dipicu oleh kopi yang baru mereka minum atau rasa cemas sesaat. Sialnya, peringatan dari smartwatch itulah yang justru memperparah rasa panik mereka, menciptakan lingkaran setan kecemasan yang merusak kesehatan mental. Kita tidak lagi mempercayai apa yang dirasakan oleh tubuh kita sendiri, melainkan sepenuhnya mendewakan angka di atas layar kaca.
Komodifikasi Data Biologis: Siapa yang Mengintip Nadimu?
Di luar urusan kesehatan mental, ada ancaman lain yang bergerak senyap namun masif: masalah privasi data biometrik. Jam tangan pintar yang melingkar di tanganmu merekam segalanya secara presisi. Ia tahu kapan kamu bangun, kapan jantungmu berdegup kencang karena ketakutan, hingga kapan siklus menstruasimu tiba. Seluruh informasi sensitif ini tidak cuma tersimpan di memori jam, melainkan langsung dikirim ke server komputasi awan (cloud) milik perusahaan teknologi raksasa.
Tanpa kita sadari, perusahaan-perusahaan teknologi ini sekarang sedang menguasai bank data biologis terbesar dalam sejarah umat manusia. Pertanyaannya, ke mana data sedetail itu akan bermuara?
Di beberapa negara maju, ketakutan ini sudah mulai mewujud menjadi kenyataan yang mengerikan. Mulai muncul tren di mana perusahaan asuransi kesehatan berusaha mengintip data dari wearable devices milik calon nasabah mereka. Bayangkan sebuah masa depan dimana klaim pengobatanmu ditolak, atau tarif premi bulananmu mendadak dinaikkan sepihak, hanya karena data jam tanganmu bocor dan menunjukkan bahwa kamu jarang berolahraga, kurang tidur, atau sering stres[3]. Tubuhmu sendiri, dalam arti yang paling harfiah, sedang dimata-matai oleh aksesori yang kamu beli dengan uangmu sendiri.
Bagaimana dengan Indonesia?
Di tanah air, antusiasme masyarakat urban untuk mengoleksi perangkat pintar ini juga sedang tinggi-tingginya. Sayangnya, antusiasme ini tidak barengi dengan kesadaran akan perlindungan data biologis yang memadai. Kita masih sering dengan entengnya mengetuk tombol “I Agree” pada syarat dan ketentuan aplikasi kesehatan tanpa pernah mau membaca ke mana data nadi kita akan dialirkan.
Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah mulai mengantisipasi risiko ini. Lewat perangkat hukum seperti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP), data kesehatan dan data biometrik secara tegas dimasukkan ke dalam kelompok “Data Pribadi yang Bersifat Spesifik”. Artinya, pengelolaan data jenis ini memiliki standar keamanan yang jauh lebih ketat dan penyalahgunaannya bisa berujung pada hukuman pidana yang serius.
Meski begitu, tantangan terberatnya tetap ada pada penegakan hukum di lapangan. Di tengah banjir gawai kesehatan murah dari luar negeri yang ekosistem aplikasinya sama sekali tidak memiliki server di Indonesia, mengawasi ke mana perginya data biologis warga negara menjadi pekerjaan rumah yang luar biasa berat bagi pemerintah.
Kesimpulan: Mengembalikan Kendali pada Tubuh
Wearable device dan ekosistem IoMT bagaimanapun adalah salah satu pencapaian terbaik dari perkawinan antara sains dan teknologi. Alat-alat ini terbukti telah menyelamatkan banyak nyawa dan memberi kita kesempatan untuk mencuri start dalam melawan penyakit sebelum terlambat. Menolak kehadirannya tentu menjadi sebuah langkah mundur yang konyol.
Namun, kita juga harus menolak untuk didikte oleh data yang disajikannya. Jam tangan pintar diciptakan untuk menjadi asisten, bukan penentu ketenangan pikiran kita. Kompas kesehatan terbaik yang pernah ada bukanlah sensor optik buatan Silicon Valley, melainkan kepekaan manusia itu sendiri untuk merasakan, mendengarkan, dan merawat tubuhnya secara bijak. Jangan sampai, di era di mana jam tangan kita makin pintar, kita justru menjadi manusia yang kehilangan kemampuan mendasar untuk memahami diri kita sendiri.
Penulis : Yogi Pratama, M.Kom.
Dosen Fakultas Teknologi Kesehatan





