Tahun 2024 lalu publik tanah air dikejutkan oleh kematian dua dokter spesialis yang masih terbilang muda usia. Keduanya selain berprofesi sebagai dokter, mereka juga influencer yang cukup populer dengan content-content kreatif kesehatan dengan follower yang cukup massif. Dokter Helmiyadhi Kuswardhana, spesialis orthopaedi dan traumatolog di salah satu rumah sakit di Sulawesi Selatan, yang wafat 10 Juli silam di usia 41 tahun, akibat sudden cardiac arrest alias henti jantung mendadak. Yang kedua, dokter Azmil Fadhlih, spesialis ilmu penyakit kulit dan kelamin di Bandung, yang berpulang saat berkunjung ke Bali 16 Desember lalu di usia belia 35 tahun, karena aneurisma alias pecah pembuluh darah. Tidak ada rekam medik yang spesifik yang menunjukkan bahwa keduanya menderita penyakit berat pra-kematiannya. Ada hal yang “misterius” di balik kematian kedua penyuluh kesehatan yang tips-tipsnya banyak dinanti-nantikan jagad warganet nasional. Bagaimana mungkin dokter yang sebenarnya cukup aware dan waspada dengan kondisi kesehatannya, justru meninggal mendadak dan tragis. Maha benar Allah dalam firman-Nya yang termaktub dalam QS. Luqman: 34 وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًاۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal. Kata sehat sejatinya berasal dari asal kata dalam Bahasa Arab yaitu shahha-yashihhu-shihhah yang berarti benar, sesuai, nyata, tidak cacat, selamat dari cela. Sebagaimana hadits yang memenuhi syarat-syarat sah-nya disebut hadits shahih, yaitu hadits yang benar, selamat dari segala hal yang menyebabkannya cacat. Itulah mengapa sehat diartikan sembuh dari penyakit atau terbebas dari penyakit. Sedangkan iman seakar kata dengan aman, amin, dan amanah. Karena iman pada dasarnya membuat diri seorang mukmin itu merasa aman, dapat memegang amanah dengan baik atau diistilahkan dengan “amin”. “Malu” dapat diartikan lebih lugas dengan kita merujuk pada hadits nabawi berikut ini: استحيوا من الله حق الحياء قلنا يا رسول الله، إنا نستحي والحمد لله ليس ذاك ولكن الاستحياء من الله حق الحياء وما وعى أن تحفظ الرأس وما حوى وتحفظ البطن ولتذكر الموت والبِلى ومن أراد الآخرة ترك زينة الدنيا فمن فعل ذلك فقد استحيا من الله حق الحياء Suatu ketika Rasulullah duduk-duduk bersama sahabat, lalu beliau bersabda: “Malulah kalian dari Allah dengan semalu-malunya.” Lalu sahabat merespon: “Ya Rasul, Kami telah malu kepada-Nya. Alhamdulillah”. Rasul mengatakan: “Bukan, bukan seperti itu”. “Malu dari Allah dengan sebenar-benarnya malu adalah: Kamu jaga kepalamu dan segala apa yang meliputinya, kamu jaga perutmu, serta segala hal yang terkait dengannya, dan hendaknya kamu mengingat kematian dan segala sesuatu yang sirna, siapa di antara kalian menginginkan akhirat, maka hendaknya ia tinggalkan perhiasan dunia, maka siapapun yang melakukan hal itu, sesungguhnya ia telah malu dari Allah dengan sebenar-benarnya rasa malu.” (HR. At-Tirmidzi, dari Ibnu Mas’ud RA) Menilik kata malu yang pada hadits tersebut diwakilkan dengan kata “al-hayaa’”, Syaikh Muhammad Hassan (ulama Mesir) mengatakan bahwa kata hayaa’ yang berarti malu, sejatinya seakar kata dengan kata hayat (hayy) yang bermakna hidup atau kehidupan. Karena perangai malu memang hanya melekat pada manusia yang hidup, dan tidak berlaku bagi yang telah mati. Menganalisa hadits di atas, tentu 3 persoalan yang mendasari sehingga seseorang dikatakan malu yang sejati meliputi sehatnya ketiga hal yang sebagaimana disebutkan oleh baginda rasul tersebut, yakni sehat bagian kepala, sehat bagian perut, dan sehat hati (niat). Sehat bagian kepala tercapai target manakala mengikuti tips (an tahfadha ra’sa wama wa’aa) ; yaitu bagaimana cara kita menjaga (care) terhadap isi kepala dan indera-indera yang melekat padanya: mata, hidung, telinga, lidah, dan seterusnya. Isi kepala berarti secara non fisik adalah pikiran, yaitu bagaimana si empunya kepala dapat menjaga pikiran-pikirannya dan menggunakan indera-inderanya tegak lurus dengan apa yang menjadi tuntunan Allah dan Rasul-Nya: berbaik sangka kepadaNya, bertauhid kepadaNya, tidak mensekutukanNya dengan selainNya, tidak suudzhon kepada orang lain, tidak takabbur atau sombong, tidak menyakiti hati orang lain, tidak sum’ah, tidak ghibah, menjaga tutur katanya, bergegas memenuhi panggilanNya kala adzan berkumandang, responsif terhadap penderitaan orang lain, senyum, sapa, dan salam menjadi tradisi sehari-harinya, dan seterusnya. Adapun secara fisik, menjaga fisik kepala dengan sebaik-baiknya dan proporsional, otak untuk berpikir, perlu bahan bakar terbaik berupa asupan gizi yang baik, dan jam istirahat yang memadai, demikian halnya mata, telinga, hidung, dan mulut, perlu dibersihkan secara rutin maupun berkala, check and recheck ke dokter mengenai seberapa baik fungsi-fungsi indera tersebut seiring dengan jam terbang hidup bertambahnya usia. Annual checking perlu diterapkan berupa CT Scan, Blood Test, Urine Check, dan seterusnya. Hal-hal tersebut sebagai langkah antisipatif (ikhtiyar) untuk mengenal kondisi kesehatan yang terkadang tak kasat mata, secara fisik nampak sehat bugar, namun setelah ditilik lebih detail, ditemukan ketidaknormalan fungsi dan kerja organ-organ yang ada di dalamnya. Jika didapat pada fase awal, maka tindakan preventif bisa diambil segera, sehingga dapat menimalisir terjadinya sudden death sebagaimana yang kerap dialami oleh anak-anak muda akhir-akhir ini. Lalu nasihat Rasulullah berikutnya, an tahfadhal bathna wama hawaa, menjaga sehatnya bagian perut dan sekitarnya. Mengkonsumsi makanan dan minuman hanya yang halal dan thayyib saja, halal dzaati juga halal kasbi. Halal dzaati yang berarti halal secara zat-nya, bukan tergolong makanan dan minuman yang diharamkan oleh nash Qur’an maupun Hadits, sedangkan halal kasbi, yaitu halal makanan dan minuman karena diperoleh dengan cara yang halal, bukan hasil korupsi, manipulatif, dan merampas yang bukan haknya. Thayyib dapat diartikan sesuatu yang baik dan berkualitas. Dalam artian, makanan dan minuman itu disajikan dengan cara yang higienis, gizinya terpenuhi, dan disesuaikan dengan kondisi fisik, jika dokter menganjurkan untuk mengurangi konsumsi garam, gula, dan minyak, untuk menstabilkan blood pressure, blood sugar, colestherol, dan acid uric, maka hal tersebut adalah thayyib baginya. Selain itu, anjuran nabi untuk menjaga pola makan, dan membagi lambung menjadi tiga bagian: sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi dikosongkan untuk ruang nafas. (HR. Imam Ahmad, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i). Kini riset ilmiah membuktikan bahwa prinsip “manajemen lambung” ala Rasulullah tersebut dapat memperpanjang umur, dan hasil riset tersebut dikenal dengan Diet Anti-Aging Calorie Restriction atau diistilahkan dengan diet rendah kalori. Rasulullah berwasiat dalam hal itu dengan “makanlah di saat lapar, dan berhentilah sebelum kenyang”. Selain perut, hendaknya setiap insan menjaga organ-organ terdekat dengan perut tersebut (wa maa hawaa) , yaitu hati, kedua tangan, kedua kaki, dan kemaluan. Dengan menjaga kesehatan hati baik fisik (liver dan jantung), maupun non-fisik, berupa perasaan dan kecondongan (preference), dan juga kemaluan, dengan menyalurkan nafsu syahwat dalam koridor syar’i yaitu hanya dalam perikatan pernikahan yang sah. Kesemuanya itu jika dipatuhi dengan iman maka akan mempertebal imunitas diri dari penyakit-penyakit kelamin yang membahayakan dan merenggut nyawa. Adapun nasehat yang ketiga untuk memperkokoh perangai malu adalah waltadzkuril mauta wal bilaa, yaitu hendaknya setiap diri mengingat kematian dan meyakini sepenuh hati bahwa segala sesuatu yang membersamainya di dunia ini akan sirna (lenyap), maka dari itu Rasul menutup wasiatnya dengan “waman aradal akhirata tarku ziinatad-dunya”, siapa diantara kalian menginginkan akhirat (kebaikan yang tidak sirna), hendaknya mereka meninggalkan kesenangan dunia. Dengan jalan apa? Dengan jalan diet dari mengejar hal-hal yang kelak tidak dibawa pulang ke akhirat. Faman fa’ala dzalika faqadistahyaa minallahi haqqal hayaa’, maka siapapun yang melakukan itu semua, maka sejatinya ia telah malu dari Allah dengan sebenar-benarnya rasa malu. Relasi sehat, malu, dan iman, adalah dimensi yang manunggal, di mana kesehatan itu sejatinya kondisi rohani dan jasmani yang zero defect (nol dari kekurangan, nihil dari hal-hal yang membahayakan), yang dihasilkan dari implementasi rasa malu yang notabene adalah komposisi kebaikan seutuhnya yang mengisi kehidupan, dan iman itu guidance (penunjuk arah) yang mana malu adalah salah satu unsur pembangun iman itu sendiri.
IKTA Serahkan Kapal Perpustakaan Terapung untuk Kabupaten Indragiri Hilir, Perkuat Literasi Masyarakat Kepulauan
KABAR...





